-->

Notification

×

Iklan

Iklan searcher

Iklan

Polda Kaltim Terus Buru Pelaku Tambang Ilegal

Jumat, 30 September 2022 | September 30, 2022 WIB Last Updated 2022-09-30T13:38:12Z

 

Foto.Konfrensi Pers tentang Tambang Ilegal di Kaltim.

BALIKPAPAN (kabar-nusantara.com) -  Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Kalimantan Timur berhasil membongkar praktik tambang ilegal di beberapa lokasi di Kalimantan Timur  yang selama ini telah merusak lingkungan dan kawasan hutan yang menjadi pelestarian alam, Sabtu 24/9/22


Beberapa lokasi tambang illegal yang telah ditangkap oleh petugas diantaranya, Kawasan Taman Hutan Bukit Suharto, Desa Sekila Tenggarong dan berhasil menangkap 1 tersangka dan alat berat beserta bukti batu bara.


Selain itu ada juga di Sepaku, Bukit Tengkorak yang masuk dalam kawasan yang akan dibangun Ibukota Negara. Serta di Desa Sukomulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim, di lokasi ini pihak petugas menangkap langsung pelaku dan pemodalnya.


Dirreskrimsus Polda Kaltim, Kombes Pol. Indra Lutrianto Amstono mengatakan bahwa pengungkapan tambang ilegal yang masuk dalam wilayah IUP OP PT TKM, yang diduga palsu, ini bermula dari laporan dari warga.


“Berdasarkan informasi dari masyarakat tersebut tim Subdit Tipidter Ditreskrimsus Polda Kaltim melakukan penyelidikan dan pengecekan ke lokasi, dan benar di lokasi kami mendapati kegiatan pertambangan batu bara yang di duga tanpa ijin,” terang Perwira Menengah Polda Kaltim.


Kegiatan tersebut saat diamankan adalah produksi batu bara dengan menggunakan satu unit ekskavator dan telah menghasilkan batu bara sejumlah kurang lebih 1000 MT.


“Kami juga mengamankan tiga orang di lokasi penambangan. Mereka adalah TM, T dan F,” jelas mantan Direktur Reserse Narkoba Polda Sulut.


Kombes Pol. Indra Lutrianto Amstono menuturkan sampai saat ini petugas kepolisian memeriksa tiga orang yang mempunyai peran masing masing. TM merupakan penambang sekaligus pemodal, T sebagai operator dan F adalah penjaga tambang.


Dalam menjalankan aksinya, TM melakukan perjanjian kerjasama operasional pertambangan batu bara pada 17 Desember 2021 dengan B yang merupakan Dirut PT TKM.  TM, meski telah mengetahui bahwa legalitas IUP OP PT TKM bermasalah, dia tetap melakukan kegiatan pertambangan batu bara untuk dilakukan penjualan dengan menggunakan perijinan perusahaan yang lain.


Ketiga tersangka dijerat pasal 158 UU RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.10 miliar.  (are)

×
Berita Terbaru Update