-->

Notification

×

Iklan

Iklan searcher

Iklan

Pesantren Al Ubaidah Kedepankan Dakwah Kebangsaan di Tengah Plularitas Bangsa

Selasa, 01 Maret 2022 | Maret 01, 2022 WIB Last Updated 2022-02-28T23:46:12Z


Nganjuk (kabar-nusantara.com) - Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono yang telah menguji kemampuan para santrinya, yang kemudian disebarkan ke beberapa majelis taklim dibawah naungan LDII memiliki tanggung jawab  besar dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah Kertosono, Nganjuk, KH. Ubaidillah Alhasaniy, saat ditemui di Kantornya  pada Senin (28/02/22). 


"Ditengah keberagaman suku, agama, dan ras bangsa Indonesia terbukti mampu merekatkan persatuan bangsa dengan kuat. Disini dai dan daiyah harus memiliki tekad dan peran besar dalam menjaga ikatan itu, jangan sebaliknya menjadi pemecah belah modal sosial bangsa tersebut," tuturnya.


Mereka, para juru dakwah LDII dan ormas-ormas Islam lainnya,  diharapkan sebagai penjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menurutnya, selaras dengan program kerja, LDII untuk Bangsa yang berisi delapan bidang, kebangsaan ditempatkan pada urutan pertama.


“Kami sebagai pusat pelatihan dan pengujian mubaligh dan mubalighot untuk LDII, harus menyelaraskan hal tersebut. Sejak 1972, kami menegaskan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah final,” lanjutnya.


Ia menegaskan, pihaknya akan terus  bekerja sama dengan semua pihak agar pandangan kami bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Selama ini, pemateri-pemateri di undang dari para akademisi dan praktisi. 


"Pada awal 2022, kami membuat program kerja, dengan memasukkan pemateri dari unsur Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kodim, dan Polres Nganjuk, tujuannya agar lebih inklusif, lebih dikenal di pesantren kami berada,” paparnya.


Program tersebut menjadi agenda rutin, mengingat sebagai pesantren yang berfungsi sebagai pintu terakhir melepas juru dakwah, Maka para santri yang nantinya terjun di tengah masyarakat harus memahami kebijakan Pemerintah terkait dakwah sebagaimana petunjuk Kemenag dan MUI. 


"Sementara itu, kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang berasas Pancasila,  maka para juru dakwah harus memahami wawasan Kebangsaan, Bela Negara, dan persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat atau Kamtibmas," tuturnya. 


“Untuk itu kami mengundang Polres dan Kodim Nganjuk untuk memberi pemahaman mengenai Wawasan Kebangsaan, Bela Negara sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menghormati jasa para pahlawan,” tutup KH. Ubaidillah Alhasaniy yang juga pengurus Departemen Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPP LDII.


Ikannya ditangkap, airnya jangan keruh: Selanjutnya program kerja Ponpes Al Ubaidah tersebut disambut baik oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Nganjuk, yang sehari-harinya sekaligus sebagai Pengasuh Ponpes Darul Ulil Albab, KH. Kharisuddin Aqib. 


"Menurutnya, karena kurang informasi dan ketidak tahuan publik bisa menyebabkan kesalah pahaman bila melihat ratusan santri tiap bulan terserap ke kelompok-kelompok pengajian LDII, prestasi Ponpes Al Ubaidah layak dicemburui dalam berlomba-lomba dalam kebaikan,” tuturnya.


"Menurutnya, dengan prestasi tersebut, Ponpes Al Ubaidah penting bersinergi dengan berbagai pihak, agar tidak menimbulkan kecemburuan yang memperkeruh suasana, orang kalau tidak tahu, tidak merasakan bisa salah paham," tambahnya.8


Tetapi kalau saling mengerti dan bekerja sama akan paham,  "ikannya bisa diambil, tapi airnya tidak keruh," ungkapnya memberi gambaran kondisi dakwah di tengah masyarakat yang plural seperti di Indonesia ini. 


Ia mengajak para santri Ponpes Al Ubaidah untuk berdakwah dengan ajakan yang baik, yang menyejukkan, dan tidak menyalahkan juru dakwah lainnya, “Alquran dan Al hadits sebagai sumber pedoman umat Islam memiliki banyak wajah, dzuwajihin satta, sehingga perspektif atau fiqihnya menjadi bermacam-macam,” jelasnya.


"Untuk itu, penyampaian dakwah  itu jangan sampai menyakiti, menyinggung dan mengejek juru dakwah lainnya, Para juru dakwah harus saling menjaga, karena semuanya mengajak kepada jalan Allah untuk kebaikan umat manusia," tuturnya. 


Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kabupaten Nganjuk, Mohammad Afif Fauzi, saat ditemui di Ponpes Al Ubaidah usai membawakan materi etika berdakwah mengatakan, kondisi masyarakat yang majemuk, menuntut setiap umat beragama memiliki kewajiban menjaga perdamaian. 


Ia mengatakan moderasi beragama menjadi prioritas, seperti yang pernah disampaikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, "Moderasi beragama merupakan upaya agar kehidupan beragama tidak menimbulkan perselisihan, tapi beragama untuk menebar kedamaian, kasih sayang di manapun, kapanpun, dan kepada siapapun,” katanya.


Menurutnya, fanatik beragama itu diperbolehkan. namun jangan sampai menyalahkan orang yang berbeda agama atau keyakinan, “Agama itu hadir di tengah kita untuk mengangkat harkat martabat manusia, itulah pentingnya moderasi beragama. Agar kehidupan yang harmonis bisa diwujudkan di negara kita tercinta,” imbuhnya. 


Para juru dakwah memiliki tugas untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat, bahwa keragaman keyakinan dan etnik bukan dalih untuk berkonflik. tapi kekayaan umat manusia, bahkan menjadi kekuatan bagi umat manusia untuk saling kenal dan berkolaborasi untuk kemaslahatan bersama.


“Bagi mereka yang tidak seiman, umat manusia bersaudara dalam kemanusiaan, kita sama-sama manusia yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menginginkan manusia hidup rukun dan damai,” katanya..


Selanjutnya Ketua Umum DPP LDII KH. Chriswanto Santoso, menyambut baik tindak lanjut dari Program Kerja DPP LDII yang dilaksanakan Ponpes Al Ubaidah. Menurutnya, LDII adalah lembaga dakwah yang inklusif yang senantiasa menerima masukan dan bekerja sama dengan berbagai pihak, dalam mengatasi masalah kebangsaan. 


Ia menegaskan, Ponpes Al Ubaidah sebagai pusat diklat mubaligh - mubalighoht LDII memiliki komitmen yang kuat dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa. 


“Meskipun kami Lembaga dakwah, kebangsaan tetap menjadi fokus utama kami. bila Indonesia terombang-ambing dalam perpecahan, tentu umat Islam di dalamnya tak bisa bekerja dan beramal sholeh dengan baik, apalagi berdakwah,” pungkas KH. Chriswanto.  (kim/ghoni)


×
Berita Terbaru Update