-->

Notification

×

Iklan

Iklan searcher

Iklan

Pembunuhan Ibu dan Anak di Semarang, Kenapa Cemburu Bisa Picu Kekerasan di Luar Nalar?

Minggu, 20 Maret 2022 | Maret 20, 2022 WIB Last Updated 2022-03-20T04:13:15Z

Ilustrasi (SHUTTERSTOCK)

Semarang (kabar-nusantara.com)  - Kasus pembunuhan sadis yang menimpa seorang ibu dan anak di Semarang menjadi sorotan. Terduga pelaku, berinisial DC (35), warga Rembang, Jawa Tengah, mengaku cemburu dan akhirnya nekat membunuh SK (32) dan anaknya yang masih berusia 5 tahun, MF. Dari penyelidikan sementara, polisi menduga motif DC membunuh adalah cemburu terhadap korban SK. Dilansir dari laman kompas.com, Minggu (20/3/22)

 

DC tak bisa mengendalikan emosi dan akhirnya berbuat nekat dan sadis kepada kedua korban. "Karena korban ketika ketemu di Semarang melambaikan tangan dengan seseorang. Tersangka menanyakan siapa itu. Motifnya cemburu," ungkap Direktur Reskrimum Polda Jateng Kombes Djuhandhani Rahardjo Puro, saat gelar perkara di Mapolda Jawa Tengah, Jumat (18/3/2022). DC pun ditangkap di depan Mapolda Jateng yang berpura-pura hendak melaporkan telah kehilangan SK dan MF.

 

Sementara itu, Pratu R tembak rekan dan anggota Brimob - Beberapa hari sebelumnya, masyarakat di Desa Liang, Kecamatan Waipia, Maluku Tengah, digemparkan dengan aksi nekat Pratu R yang menembak rekannya dan seorang anggota Brimob. Pratu R, oknum Satgas TNI BKO Batalyon Arhanud 11/Wira Bhuana Yudha.

 

Dia juga sempat menembaki komandannya sendiri, Letda Arh Firlanang. Dalam insiden itu, Bharaka FA yang kebetulan melintas dengan sepeda motor di depan lokasi kejadian, tewas. Setelah itu, Pratu R kabur dan bersembunyi di rumah warga. Pratu R akhirnya berhasil diamankan dan segera diproses secara hukum.

 

“Pelaku saat ini berada di Sub Denpom Masohi dalam proses penyelidikan dan pemeriksaan kesehatan kejiwaannya karena diduga pelaku mengalami depresi akut sehingga melakukan tindakan yang mestinya tidak dilakukan,” kata Kepala Penerangan Kodam XVI Pattimura, Kolonel Arh Adi Prayogi Choiraul Fajar, Rabu (16/3/2022).

 

Emosi memicu kekerasan Menurut Syarkoni, M. Psi., Psikolog Klinis RSUD. Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan dan sekaligus pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Sumatera Selatan, banyak faktor yang berpotensi memicu emosi seseorang menjadi labil, salah satunya stres. Kondisi stres, katanya, adalah reaksi tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan.

 

"Pada tahap stres berat, perilaku seseorang akan merespon secara agresi, baik secara verbal ataupun tindakan. Bahkan sampai menyerang, merusak, melukai atau membunuh seseorang, lingkungan, objek atau situasi yang menyebabkan seseorang mengalami tekanan mental tersebut," katanya kepada Kompas.com.

 

Hal itu menjadi semakin tak terkendali apabila subyek itu tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi dan menerima masalah itu, dan beradaptasi dalam mencari solusi permasalahan yang dialaminya. Sementara itu, lanjut Syarkoni, apabila masyarakat bertemu dengan seseorang dalam kondisi itu, sebaiknya tetap menjaga jarak aman.

 

Dan bila perlu berusaha melakukan komunikasi dengan harmonis untuk menenangkan. "Dengan berkomunikasi yang harmonis bisa menangkan emosi dan bisa mencari atau mengetahui sumber permasalahan atau faktor stressor yang dialami orang tersebut," pungkasnya.

(Penulis : Michael Hangga Wismabrata;  Editor : Michael Hangga Wismabrata)

 

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pembunuhan Ibu dan Anak di Semarang, Mengapa Rasa Cemburu Bisa Picu Kekerasan di Luar Nalar?", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2022/03/20/104008878/pembunuhan-ibu-dan-anak-di-semarang-mengapa-rasa-cemburu-bisa-picu.

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:

Android: https://bit.ly/3g85pkA;  iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

×
Berita Terbaru Update