-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pertamina Bangun Kilang dan Petrokimia Skala Mega di Tuban

Minggu, 26 September 2021 | September 26, 2021 WIB Last Updated 2021-09-26T04:40:05Z

Penandatanganan MoU oleh Presiden Direktur Pertamina Rosneft Ambara jaya dan General Manager PLN Unit  Distribusi jawa, Adi  Priyanto


Tuban (KABAR NUSANTARA) - Sejalan dengan Nawacita Presiden RI untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, serta sesuai dengan grand strategy energi nasional kedepan, Pertamina saat ini sedang menjalankan serangkaian proyek kilang dan Petrokimia berskala mega. 


Melalui serangkaian proyek ini, Pertamina diharapkan mampu untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor produk BBM, dengan meningkatkan kapasitas kilang dalam rangka optimalisasi produk BBM dan memperbaiki kualitas BBM dan Naptha, serta dapat memajukan perekonomian negara. 


Indonesia juga melakukan ekspansi bisnis secara masif ke industri Petrokimia yang saat ini masih sangat bergantung dengan impor.  GRR Tuban merupakan salah satu mega proyek yang saat ini menjadi perhatian Pertamina. Pembangunan Kilang Minyak yang terintegrasi dengan Komplek Petrokimia dengan kapasitas pengolahan minyak mentah sebesar 300 ribu barel per hari ini. 


Proyek Kilang ini akan memproduksi BBM sebesar 230 ribu barel per hari secara total, dan produk petrokimia dan aromatik sebesar 4.1 juta ton per tahunnya.  Di tengah upaya untuk mempercepat progress pembangunan kilang grass root refinery Tuban, Pertamina melalui anak usaha subholding Refining & Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional.


GRR Tuban yang direncanakan mulai beroperasi tahun 2027 di bawah pengelolaan Pertamina Rosneft. 


Untuk memastikan penyediaan listrik, diperlukan kerja sama antar BUMN untuk mendukung operasional kilang GRR Tuban ke depannya. Sinergi BUMN ini dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pertamina Rosneft dengan PT PLN (Persero) terkait rencana kajian bersama dalam penyediaan listrik untuk kebutuhan proyek GRR Tuban.


MoU ditandatangani langsung oleh Presiden Direktur Pertamina Rosneft Kadek Ambara Jaya dan Pavel Vagero selaku Direktur Keuangan dan Umum serta General Manager PLN Unit Distribusi Jawa, Adi Priyanto.  GRR Tuban  direncanakan mulai beroperasi tahun 2027 di bawah pengelolaan Pertamina Rosneft. 


Disaksikan Wakil Menteri I BUMN, Pahala Mansyuri. Dalam sambutannya, Pahala menyampaikan bahwa penyediaan listrik untuk NGRR Tuban akan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak dan sebagai sinergi BUMN kerja sama ini akan memberikan manfaat terkait efisiensi nasional.

 “Bagi PLN kerjasama ini akan meningkatkan serapan tenaga listrik sehingga akan meningkatkan pendapatan, sementara untuk Pertamina Rostneft,  kerja sama ini akan membuat lebih fokus untuk meningkatkan kompetitifnya,"  jelas Pahala Mansyuri.


Melalui nota kesepahaman ini, Pertamina Rosneft dan PLN akan membuka peluang untuk  melaksanakan kajian bersama, memastikan penyediaan suplai listrik hingga 20 mega watt (MW) selama fase konstruksi dan commissioning. Selain itu dari hasil kajian tersebut nantinya akan ditentukan skema kerjasama yang paling optimal dan menguntungkan dari aspek bisnis serta akan mencakup pada penentuan penyediaan infrastruktur penunjang dan skenario konfigurasi sistem dan peralatan.


Kepada wartawan KABAR NUSANTARA, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Djoko Priyono, mewakili Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menyampaikan, "Fase konstruksi ditargetkan akan dimulai pada triwulan ke 3 tahun 2023 dan perkiraan kebutuhan listrik GRR Tuban pada fase ini yaitu sebesar 20 megawatt. Sedangkan untuk tahapan commissioning start-up utility yang akan dimulai pada triwulan ke 2 tahun 2026 kebutuhan listrik dapat mencapai 50 megawatt, ” ungkapnya yang disampaikan secara tertulis,  Minggu (26/9)


Lebih lanjut disampaikan, konfigurasi Kilang Pertamina Rosneft saat ini memerlukan kepastian jaminan operasional kilang tanpa terputusnya aliran listrik sehingga diperlukan pasokan listrik yang handal. 

“Berhentinya operasi kilang dalam 1 hari sama dengan hilangnya potensi revenue sebesar USD 34 juta (setara dengan 480 Miliar Rupiah) sehingga dibutuhkan jaminan suplai energi listrik terus menerus yang handal dengan zero total failure,” kata Djoko.


Dalam kesempatan tersebut Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengungkapkan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada PLN yang akan menjaga komitmen untuk penyediaan kebutuhan listrik secara handal dengan harga yang kompetitif.  Nota kesepahaman ini akan berlaku selama 1 tahun dan hasil kajian bersama ini akan dituangkan dalam kerjasama penyediaan listrik GRR Tuban dalam format Perjanjian Jual Beli Tenaga listrik.

"Pada tahap operasi kebutuhan listrik secara total untuk kondisi normal operasi mencapai 678 megawatt melaui konfigurasi kombinasi suplai self-power generation dari kilang GRR Tuban serta electrical power grid dari PLN dan direncanakan PLN akan mensuplai hingga 500 megawatt," tambahnya.


Kerjasama antara Pertamina Group dan PLN sendiri terutama untuk operasional kilang BBM bukan yang pertama. Sebelumnya PT Pertamina (Persero) meneken perjanjian kerjasama dengan PLN untuk penyediaan layanan kelistrikan untuk 5 kilang Pertamina di Refinery Unit (RU) II Dumai, RU III Plaju Sungai Gerong, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, dan RU VI Balongan dengan kebutuhan total daya listrik yang disuplai mencapai 217 MVA yang selanjutnya dapat bertambah 104 MVA.


Pertamina Rosneft merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Pertamina Group dengan raksasa energi Rosneft asal Rusia yang menjadi pelaksana proyek strategis nasional GRR Tuban.  Berdiri di atas lahan seluas 834 hektare, kilang yang diharapkan menjadi fasilitas petrokimia terbesar di Asia Tenggara ini ditargetkan beroperasi tahun 2027.


Proyrk ini menyerap kurang lebih 27.000 tenaga kerja  pada saat konstruksi, serta 2.500 tenaga kerja setelah proyek beroperasi.  Proyek GRR Tuban saat ini telah berada pada tahapan Front-end Engineering Design dengan progres per tanggal 17 September 2021 telah mencapai 34,54% vs rencana 17,83% (ahead +16,71%).


Dengan dukungan dari Kementerian BUMN, Kementerian ESDM dan juga PLN, realisasi dan eksekusi proyek GRR Tuban dapat berjalan dengan lancar dan sesuai target, proyek GRR Tuban ini akan mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dalam pemenuhan BBM maupun pemenuhan produk petrokimia. (Atmada)


×
Berita Terbaru Update