-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dampak PPKM di Kabupaten Jombang, Kasus Perceraian Meningkat Tajam

Senin, 09 Agustus 2021 | Agustus 09, 2021 WIB Last Updated 2021-08-08T22:04:54Z


Jombang,(kabar-nusantara.com) - Pandemi covid-19 turut menyumbang naiknya angka perceraian di Kabupaten Jombang, propinsi Jawa Timur. Di Kabupaten yang berjuluk Kota Santri ini, banyak perempuan mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya.


Dari data perceraian yang ada di Pengadilan Agama Jombang tercatat, terhitung sejak bulan Januari – Agustus 2021 terdapat ada 1.967 permohonan perceraian.


Angka perkara ini dinilai cukup tinggi jika dibanding rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya. Tingginya permohonan cerai itu dengan beragam alasan penyebab gugatan.


Siti Hanifah, S.Ag., M.H. Ketua Pengadilan Agama Jombang saat ditemui diruang kerjanya Jum’at,(6/8) mengatakan,  “Angka perkara yang masuk di Pengadilan Agama lebih banyak didominasi perkara Gugatan cerai istri terhadap suaminya, sementara sisanya merupakan perkara Permohonan Talak yang diajukan suami terhadap istrinya.


“ada 76 persen Gugatan Cerai yang diajukan perempuan dan sisanya 24 persen permohonan Talak yang diajukan suami terhadap istri”, Terang Ketua PA Jombang.


Meski demikian, dari jumlah permohonan perkara perceraian ini, tidak semuanya berakhir cerai dan terbit  atau keluar akta cerai, karena banyak juga yang bisa berdamai rukun dan mencabut gugatannya, ada juga yang tidak melaksanakan ikrar talak sehingga perkaranya gugur demi hukum atau kembali rujuk.


Dari prosentase perkara itu, sejak bulan Juli 2021, pendaftaran perceraian di pengadilan Agama Jombang mencapai 30 perkara setiap hari.


Padahal dengan adanya pandemi ini, sejumlah pelayanan dilakukan secara online dan sempat dihentikan aktivitas layanannya karena banyak pegawai serta hakim pengadilan Agama Jombang yang positip terpapar corona.


“Pengadilan Agama sempat lockdown di awal bulan Juli lalu dan baru bisa dibuka kembali layanannya pada pertengahan Juli, sehingga yang masuk 150 perkara saja pada bulan kemarin”, ungkapnya.


Ada berbagai persoalan dalam perkara perceraian yang diajukan pemohon, seperti ketidak harmonisan keluarga hingga pertengkaran yang secara terus menerus, menjadi faktor penyebab kasus perceraian di kabupaten Jombang meningkat.


Sebab menurutnya, dari hasil perkara persidangan faktor yang mendasar yakni gagalnya komunikasi serta faktor ekonomi. Selain itu juga banyak yang beralasan terjadinya perselingkuhan pada pasangannya sehingga salah satu pihak merasa dikhianati.


“Memang kebanyakan dari sering bertengkar yang mengakibatkan ketidak harmonisan rumah tangga, alasannya karena persoalan ekonomi ataupun perselingkuhan,” terangnya. (UDN)

×
Berita Terbaru Update