-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rio Cs Ingin Kerja di Kalimantan Namun Terdampar di Pasar Impres Kota Kupang

Senin, 19 Juli 2021 | Juli 19, 2021 WIB Last Updated 2021-07-19T15:15:02Z

Kupang (kabar-nusantara.com) - 3 pekerja asal Malaka tersangkut di Kota Kupang tepatnya di pasar inpres, Naikoten 1, itu terjadi karena biaya tes Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Swab PCR test, yang biayanya sekitar sejutaan, ungkap salah satu pekerja asal Malaka, Rio. Minggu (18/7/2021).

"Kami bertiga mau mencari kerja di Kalimantan, tapi kami terpaksa harus kerja di Kota Kupang untuk bertahan hidup, karena masih menunggu kiriman uang dari kakak-kakak kami untuk biaya tes PCR," ungkap Rio.

Menurutnya dia merantau dan bekerja untuk bisa  memenuhi kebutuhan hidup orang tua dan untuk kebutuhan masa depan, "karena bekerja di kampung hanya cukup untuk makan minum saja. Tapi kalau untuk membangun rumah dan kebutuhan lain tidak akan cukup," ujarnya.

Senentara Jemi, saudara Rio, yang terpaksa harus bekerja sebagai buruh bongkar muatan pisang di pasar Inpres Naikoten menyatakan, "kami terpaksa bekerja disini untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum kami di Kota Kupang, karena sedang menunggu uang kiriman dari kakak kami, satu kali bongkar satu truk, upahnya Rp. 150.000," katanya.

Hal ini di tanggapi oleh Randy, seorang mahasiswa asal Malaka yang ada di Kupang, "seharusnya pemerintah  bertanggung jawab atas biaya tes PCR tersebut, supaya tidak membebani orang yang sedang dalam perjalanan.  Pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas biaya yang timbul atas kebijakan yang dibuatnya disaat pandemi COVID-19," ungkap Randy.

Dia melanjutkan bahwa "kondisi sosial masyarakat mau bekerja untuk memenuhi kebutuhan makan minum saja tidak cukup, apalagi untuk biaya pendidikan, kesehatan, dan lain-lain tentu tidak akan cukup juga. Hal ini disebabkan karena meningkatnya harga barang-barang dan mahalnya biaya pendidikan, tegasnya. (Pewarta : AS)

×
Berita Terbaru Update