-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Berkat Kemitraan CSR PT. BA, Jamur Cinta Pertama Wati Bersemi Kembali

Kamis, 01 Juli 2021 | Juli 01, 2021 WIB Last Updated 2021-07-01T09:14:45Z


Muara Enim (kabar-nusantara.com) - Kecintaan Rahmawati pada hasil budidaya jamur tiram bisa dikatakan sudah harga mati bagi warga Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim ini. Ibarat lirik lagu 'tak bisa ke lain hati' dialami Rahmawati. Meskipun cobaan dan rintangan  datang silih berganti, jatuh bangun dirinya tetap berpegang teguh pada keyakinan diri bahwa jamur tiram akan bisa memberikan manfaat besar pada kehidupan ekonomi keluarganya.

Sejak menjadi mitra binaan PT. Bukit Asam Tbk (PT. BA) dengan mengolah pupuk bokasi seketika itu mampu membuat pandangannya tertarik pada usaha budidaya jamur tiram. Setelah mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram yang diadakan Pemerintah Kecamatan Lawang Kidul bekerjasama dengan CSR PT. Bukit Asam Tbk tahun 2013.

Pelatihan itu bertema 'Teknologi Tepat Guna'  ia langsung beraksi dengan mensurvei kebutuhan jamur di pasar dan menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Dengan memberanikan diri mengajak teman-temannya di Bedeng Kresek Tanjung Enim, Lawang Kidul, untuk membudidayakan jamur tiram. 

Siapa sangka, dengan bekal ilmu dari pelatihan dan modal patungan serta memanfaatkan lahan yang ada disekitar rumahnya, ia bisa memanen jamur sebanyak 500 baglog (media tanam) hingga mencapai 3000 baglog. Dari proses penanaman hingga penjualan memakan waktu lebih kurang 3-4 bulan setelah dipotong biaya air dan listrik, ia bisa mendapat hasil Rp 6.000.000 per 10 hari panen.

Namun usaha itu sempat berhenti selama 6 bulan, yakni tahun 2017, ia membuka lagi usaha jamur tiram dengan modal sendiri dan omsetnya bisa mencapai Rp 8.000.000 per bulan. Namun hasil ini ternyata tidak bisa dibilang cukup, karena untuk memenuhi biaya-biaya kebutuhan usaha jamur tersebut.

Kemudian tahun 2019 mendapat bantuan modal dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT. BA sebesar Rp 35 juta dan bisa membuat 15.000.000 baglog. Setelah panen pertama, Rahmawati mendapat ujian,  putrinya perlu perawatan serius di Rumah Sakit Palembang, hingga penjagaan pemeliharaan  baglog-baglog jamur itu tidak bisa diawasi secara penuh.

Akhirnya, musibah itu benar-benar datang, sang putri meninggal, hal itu semakin membuat duka mendalam baginya. Rahmawati bertutur saat itu seperti rasanya mau mati saja dan tidak ada rasa untuk kembali hidup didunia, apalagi kembali menggeluti usaha jamur.

Padahal saat itu, hasil panen sedang tumbuh banyak meskipun hasil tidak sempurna, karena tidak sesuai standar jamur yang layak dijual di pasaran karena minimnya sentuhan tangan dinginnya. Semangat luntur seketika. Waktupun berjalan, semak belukar mulai berdatangan di rumah kumbung jamur dan semakin lesu semangat hidupnya. 


"Saat itu saya berhenti total di usaha jamur. Kerja serabutanpun mulai dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terlebih ditambah suami tidak bekerja dan mulai masuk masa pandemi Covid-19. Rasanya sangat malu bila berjumpa dengan orang-orang CSR PT. BA, karena masih ada angsuran yang belum lunas," cerita Wati.

Dulu pernah merasakan setelah masa inkubasi selama 40 hari bisa panen 3-4 kali sehari. Hasil panen ini yang kemudian diolah menjadi berbagai macam kreasi makanan yang menggungah selera seperti sate, nugget, bakso, jamur crispy, stik jamur, pangsit dan banyak lagi yang kemudian akan di distribusikan secara luas.

Prestasi seperti ini pernah menjadi goresan-goresan indah yangg menjadi percakapan bersama suami, apakah bisa terulang kembali. Hingga akhirnya babak baru untuk kembali ke cinta pada pandangan pertama yaitu jamur tiram dirasa akan segera bertemu. Kedatangan Tim CSR ke lokasi kumbung jamur membuat cerita baru yang penuh harapan berbeda.

Dengan keluh kesah ia menyampaikan kepada Tim CSR PTBA apa yang terjadi hingga kumbung jamurnya saat itu penuh dengan semak belukar. Melalui petunjuk dan bimbingan CSR PT. BA, ia membuat proposal bantuan untuk usaha jamur. Awal Januari 2021 diajukan proposal dan akhir Februari 2021 mendapat pencairan dana bantuan yang ke-2.

"Syukur alhamdulillah, mungkin dengan kepercayaan pada proposal kami, akhirnya PT. BA memberikan bantuan kembali untuk usaha jamur tiram melalui dana hibah sebesar Rp 15 juta," katanya.

Dengan tetap menjadi binaan Sentra Industri Bukit Asam (SIBA) usaa jamur tetap bernama Kelompok Jamur Tiram "Bukit Mandiri" di Desa Keban Agung Kecamatan Lawang Kidul, akhirnya Rahmawati dan suaminya membuka usaha jamur tiram kembali.

"Bantuan ini membuat usaha jamur tiram yang kami kelola bersama suami menjadi awal kebangkitan dari keterpurukan, bulan Juni 2021 kemarin panen perdana kami sebanyak 5.000 baglog," ucapnya.

Ia sangat bersyukur bahwa CSR PT. BA sebagai bentuk tanggung jawab sosial dari perusahaan PT. BA untuk maju dan berkembang bersama lingkungan, yang diberikan kepadanya, benar-benar bisa dirasakan.

Dan atas kepercayaan dari perusahaan melalui pola mitra binaan PT. BA, Rahmawati akan tetap mempertahankan dan terus meningkatkan kreasi produk olahan jamur dengan menambah banyak lagi varian-varian menarik dari jamur, sehingga tetap eksis dan memperluas pangsa pasar. (MA)


×
Berita Terbaru Update