-->

Notification

×

Iklan

Iklan searcher

Iklan

Presiden RI Joko Widodo Ingatkan Hati-hati Kita Masih Impor Pangan

Senin, 11 Januari 2021 | Januari 11, 2021 WIB Last Updated 2021-01-21T13:32:42Z

 

Kabar-nusantara.com, Kupang - Presiden RI Joko Widodo mengingatkan ada potensi krisis pangan yang dihadapi dunia akibat pandemi Covid-19 dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian Tahun 2021 di Istana Negara Jakarta, yang disiarkan langsung lewat video di internet, Senin (11/01).

Rakernas dihadiri sejumlah Menteri Koordinator dan Menteri terkait, Kepala Daerah seluruh Indonesia, sejumlah pejabat eselon satu dan dua dari Kementerian Pertanian, serta Kepala Dinas Pertanian tingkat Provinsi dan Kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Jokowi menyebutkan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) menempatkan sektor pangan di posisi paling sentral terdampak krisis akibat pembatasan mobilitas warga dan distribusi barang antar negara, terutama pangan dunia selama pandemi Covid-19.

“Hati-hati dengan komoditas seperti bawang putih, gula, kedelai, jagung yang masih kita impor dalam jutaan ton,” tegas Jokowi di hadapan peserta Rakernas. Setiap tahun kita menggelontorkan Rp 33 triliun untuk subsidi pupuk dan benih. Lima tahun, sepuluh tahun sudah berapa triliun? Rp 330 triliun. Return untuk negara berapa? Nyatanya kita masih impor.  Berarti ada yang salah dalam sistem produksi.

Kita masih menggunakan cara-cara konvensional, menjalankan rutinitas dan monoton dalam pembangunan pertanian dan produksi pangan sehingga masih ada komoditas yang kita impor, ini harus ditiadakan. Carilah desain yang baik untuk komoditas yang masih kita impor, seperti desain food estate, teknologi diperbaiki, economic scale diperluas. "Cari lahan 100 hektar, 300 hektar, 500 hektar, 1 juta hektar supaya biaya produksi lebih murah," tambanya.

Komoditi kedelai dalam negeri yang sudah tumbuh baik namun tidak lagi diproduksi petani akibat kalah bersaing dengan kedelai impor.  Harga kedelai dalam negeri tidak kompetitif disebabkan mahalnya ongkos produksi.  Situasi yang sama dialami petani bawang putih di Wonosobo dan NTB.

“Pengembangan lumbung pangan sedang dilakukan di Sumutera Utara dan Kalimantan Tengah di tahun ini. Kita akan evaluasi problemnya apa, masalah lapangannya apa, teknologinya kurang apa.  Ini benar menciptakan lumbung pangan maka menjadi contoh untuk daerah lain,” jelasnya lebih lanjut mengakhiri sambutannya.   (Ferdinand).

×
Berita Terbaru Update