-->

Notification

×

Iklan

Iklan searcher

Iklan

Surga Pariwisata Laboya Barat, Sumba Untuk Siapa?

Minggu, 17 Januari 2021 | Januari 17, 2021 WIB Last Updated 2021-01-21T13:27:30Z

  

Oleh: Ferdinand Adam

Kabar-nusantara.com, Laboya Barat, Sumba - Angin laut meniup sepoi-sepoi di siang itu, seakan menemani kami menuju pantai Ngedo di kawasan wisata Laboya Barat, Sumba. Di saat mendekati bibir pantai, kami menjumpai sebuah vila bernuansa arsitektur Sumba.  Bangunan itu dikelilingi tembok batu setinggi kurang lebih dua meter dan tampak kokoh.  Bagi siapapun yang bukan tamu hotel, sulit untuk mengakses ke dalam.  Beruntung di luar pagar bangunan itu terdapat jalan tapak yang dilalui orang untuk  mengakses pantai.

Saat itu pantai begitu sepi, namun tak jauh dari tempat kami berdiri ada sekelompok pemuda sedang berbaring sambil bercengkrama di pantai berkerikil itu; mereka hanya beratap kanopi pohon cemara laut. Di dekat tempat mereka berbaring terlihat jejeran papan selancar yang tersusun rapih di dalam tenda kecil beratap ilalang.  Seketika itu di benak saya muncul rasa ingin tahu akan aktifitas sekelompok pemuda tersebut.

Saya pun mendekati sekumpulan pemuda itu dan menyapanya.  Sontak sapaan saya  ditimpali senyum ramah, maka kesempatan baik itu dipakai untuk berbincang-berbincang seputar aktifitas mereka di lokasi wisata itu. Dari percakapan kami, diketahui  bahwa sekelompok pemuda itu merupakan  pekerja di vila  milik seorang warga berkebangsaan Prancis. Sedangkan seorang lainnya, sebut saja Aleks adalah pekerja lepas yang jasanya dipakai sang pemilik vila itu untuk melatihnya berselancar. Saya termenung lama! Seakan tidak peduli lagi pada keindahan alam yang hadir di sekitarku.

Terlintas dalam pikiran saya adalah tentang bagaimana  teman-teman sebayanya yang lain di kampung.  Aleks dan teman sekumpulannya dapat merasakan nikmatnya kehadiran wisata di kampungnya, walaupun kita tidak pernah tahu berapa imbalan yang didapat dari jasa mereka.

Aleks bercerita tentang kisahnya menggeluti dunia pariwisata selama kurang lebih dua tahun di Bali.  Aleks berkisah bahwa banyak pengalaman telah diperolehnya dari para peselancar lokal di pulau dewata itu.  Pengalaman itu membuat Aleks sangat percaya diri bahwa suatu kelak nanti menjadi pelatih selancar di kampungnya. Sayangnya cita-cita Aleks belum terwujud karena ketiadaan modal untuk melengkapi sarana belajar yang dibutuhkan.

Keberuntungan lain dialami oleh Petu, Om dari Aleks.  Petu memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan pada sebuah hotel ternama di kawasan Wanukaka. Petu berkenalan dengan seorang warga berkebangsaan Prancis. Dari perkenalan mereka, maka terjalinlah kerjasama membangun usaha jasa cottage di kawasan wisata di Laboya.

Karel, warga lokal yang kami jumpai di sebuah vila yang terletak di kawasan wisata yang sama. Karel bercerita bahwa sejak ia diterima bekerja di sebuah hotel di kawasan wisata Wanukaka, dia telah mendapat banyak berpengalaman saat menjadi koki spesial masakan Eropa.  Karel saat ini dipercaya sebagai pengelola salah satu vila milik seorang warga kebangsaan Australia di kawasan Laboya.  Dia bercita-cita memiliki vila sendiri yang dibangun di atas lahan miliknya di kawasan wisata itu.

Di atas merupakan cerita-cerita baik warga lokal terkait kehadiran pariwisata di kampungnya, Sumba Barat.  Sebaliknya ada juga kisah lain yang kontradiktif. Itu dialami warga lokal lainnya. Bahwa pariwisata di pulau yang sama telah menyisakan derita berkepanjangan di kalangan komunitas lokal, khususnya mereka yang sangat menggantungkan matapencahariannya pada kemurahan hati para tuan tanah. Bahkan diketahui tidak sedikit tuan tanah yang terperangkap oleh ulah para makelar tanah karena mereka mengambil untung berlipat-lipat dari transaksi jual beli tanah dengan  para investor asing.

Sebut misalnya, Marten. Dia menceritakan kegelisahannya karena tanah milik kakeknya yang berpuluh-puluh tahun silam pernah menjadi tempat penggembalan ternak milik mereka, telah berpindah tangan kepada warga asing.  Di atas lahan itu telah dibangun hotel dan vila-vila mewah.  Bahkan pantai yang dahulu menjadi tempat mereka bermain, sekarang tidak lagi dengan bebasnya diakses.  Jika mereka hendak ke pantai harus seijin penjaga hotel di lokasi itu.

Di sejumlah lokasi destinasi wisata sering kita temui anak-anak sedang menunggu di jalan masuk.  Anak-anak itu menjulurkan tangannya seraya mengharapkan sekeping-dua keping rupiah dari para pengunjung. Wajah lusuh dan kurang bersih pada anak-anak menghiasi pemandangan di sekitar pemukiman kampung yang letaknya tidak jauh dari hotel dan vila itu berada.

Situasi kontradiktif jelas sekali benang merahnya.  Pemukiman warga lokal di sekitar kawasan wisata begitu kumuh dan sulitnya mendapatkan air bersih.  Anak-anak yang mestinya memperoleh asupan gizi cukup untuk tumbuh-kembang mereka, malah ubi dan pisang bakar menjadi santapan harian mereka.  Sebaliknya, di sekitar mereka yang berkekurangan itu berdiri hotel dan vila mewah yang kelimpahan air bersih--seakan tidak berempati pada kehidupan masyarakat di sekitar.

Idealnya pariwisata hadir ketika masyarakat di suatu kawasan pengembangan telah terlayani kebutuhan yang paling mendasar, baik itu pendidikan, kesehatan, sarana air bersih, serta infrastruktur pendukung aktifitas ekonomi di kawasan itu. Sehingga eksistensi pariwisata ibarat lokomotif yang menggerakkan gerbong-gerbong kemakmuran komunitas lokal di kawasan itu.

Sebagai tuan tanah, misalnya; dengan pendidikan dan informasi yang cukup maka mereka memiliki posisi tawar yang lebih baik ketika ada investor yang ingin menginvestasikan bisnisnya di atas lahannya. Begitu juga sebagai petani;  mereka dibekali pengetahuan teknis pertanian dan pengenalan pasar.  Maka dengan pengetahuan itu, petani mampu mengidentifikasi kebutuhan pasar dan memutuskan pilihan komoditas dan teknologi yang tepat.  Bahkan diharapkan mereka turut berkontribusi dalam kemeriahan pariwisata di kampungnya melalui penyediaan berbagai bahan pangan dan produk olahan yang dihasilkannya sendiri.

Di sini diperlukan kemauan baik pemerintah daerah agar penyediaan layanan publik di kawasan pengembangan wisata didasarkan atas kebutuhan komunitas lokal dan pasar yang semakin terbuka. Mendahulukan pembangunan pariwisata, namun mengabaikan layanan publik maka pemerintah dengan sengaja menciptakan malapetaka bagi rakyatnya sendiri.

Bila demikian, apakah pariwisata yang diimpikan kita seperti itu? Kalau ternyata pariwisata tidak memberi dampak perubahan lebih baik pada masyarakat sekitar. Lalu pariwisata untuk siapa?

×
Berita Terbaru Update