-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Proyek Turab Desa Teriti Kec. Sumay, Tebo Jebol, Warga Prehatin dan Was-was

Kamis, 31 Desember 2020 | Desember 31, 2020 WIB Last Updated 2020-12-31T10:25:01Z

Kabar-nusantara.com, Jambi - Pembangunan turap penahan tebing sungai Batanghari di RT 02 Dusun Tanggo Bulian Desa Teriti Kec. Sumay, Tebo, Jambi, kemarin longsor. Seluruh fisik bangunan yang didanai dari APBD Provinsi Jambi TA 2020, senilai Rp. 469.101.000,- terlihat berserakan dibibir sungai Batanghari. Bahkan rumah penduduk sekitar proyek terancam lonsor jatuh ke sungai. 

Menurut saksi mata, tokoh masyarakat setempat yang sempat melihat kondisi bangunan itu mengatakan, sebelum terjadinya longsor semalam, tanah timbunan terlebih dahulu turun, kemudian bangunan longsor. Proyek ini semalam longsor habis itu kondisi bangunan tidak berbentuk lagi, hancur berantakan. "Melihat kondisi puing-puing bangunan yang hancur itu, kami menduga pembangunan ini dikerjakan asal jadi saja,” katanya kemarin, Kamis (31/12).

Lebih jauh dia menyatakan, dengan kondisi longsornya turap itu masyaakat menjadi was-was, karena  sebagian jalan ikut terjun ke sungai, sisa jalan tinggal separuhnya saja. Kami sangat prihatin dengan proyek pemerintah seperti ini, padahal saat ini air sungai dalam keadaan surut. Tapi mengapa bangunan itu bisa longsor, "jadi kami mempertanyakan kualitas bangunan ini yang tidak bagus,” ucapnya.

Pantauan awak media di lapangan, kondisi bangunan turap ini sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan. Proyek ini diketahui dari Dinas PUPR Provinsi Jambi,  melalui bidang sumber daya air melakukan pembangunan turap di Desa Teriti, Sumay Kab. Tebo, dengan nomor kontrak, No. 614.11/12.a/DPUPR-4.3/17.03/IX/2020 tanggal 16 September 2020. Sedangkan rekanan pelaksana proyek ini adalah CV. Arafah dengan konsultan pengawas CV. Ratu Daha Konsultan. Proyek ini didanai dari APBD perubahan senilai lebih dari 469 juta. 

Sementara itu Kepala Desa Teriti, Raden Sopli membenarkan proyek turap sepanjang 32 meter yang dikerjakan CV. Arafah itu hancur lebur. Menurut dia, kejadian itu berawal dari tanah timbunan yang turun akibat genangan air.

Melihat kondisinya hancur lebur, tidak dapat diperbaiki lagi. Bahkan rumah penduduk nyaris terbawa longsor, ini terjadi karena timbunan tanah tidak tahan genangan air akibatnya turap ini jebol,” kata Raden Sopli, ketika dihubungi via telepon selulernya.

Sementara ini menunggu pihak Dinas PUPR provinsi Jambi bersama kontraktor yang akan turun ke lokasi proyek yang baru selesai pertengan bulan Desember 2020 ini.  (Bunyani)

×
Berita Terbaru Update