-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Marak Anak Jalanan di Lampu Merah Buat Semua Risih dan Iba

Selasa, 20 Oktober 2020 | Oktober 20, 2020 WIB Last Updated 2020-10-20T03:06:52Z

Kabar-nusantara.com, P0s Pangkal Pinang (14/10) Maraknya anak jalanan di  persimpangan lampu merah di jalan utama  Pangkalpinang selain mengancam keselamatan  mereka juga   membuat pengguna jalan jadi  risih. Melihat  anak-anak yang seharusnya di rumah belajar tapi malah berkeliaran di jalan, ada  perasaan iba saat kantong kresek  disodorkan kepada pemilik kendaraan yang lewat. Sementara di sisi  jalan lain terbentang  spanduk bunyinya larangan memberi uang kepada gelandangan dan pengemis (gepeng) di jalan.

Penanganan Gepeng dan anak jalanan sudah diatur dalam  Peraturan Daerah (Perda) Walikota Pangkalpinang no. 07 tahun 2015. Saat ini Pangkalpinang sedang giat-giatnya  mendapat penghargaan Kota Layak Anak (KLA) dari Pratama ke Madya. Oleh karena itu Kepala Dinas Sosial Pangkalpinang, Rika Komarina mengatakan “kami sering patroli dan terjaring delapan anak, waktu itu. Lima dari mereka tergolong usia pelajar SD, tapi tidak usah disebutkan SD nya”.

Usia mereka antara  10 – 17 tahun. Ada yang berstatus pelajar, namun banyak yang putus sekolah. Selama pandemi mereka  seharusnya  belajar   dari rumah (BDR)  sistem daring (dalam jaringan).  Alih-alih belajar malah banyak berkeliaran di luar . Ini dikarenakan terdesak masalah ekonomi, tidak punya hand phone (HP) dan  tidak punya uang untuk beli paket data.  Kalau pun punya uang itupun sedikit  hanya cukup untuk makan.  Ini alasan utama mereka mencari uang recehan di pinggir jalan.  Sementara orangtua mereka sibuk bekerja dan tidak tahu kalau anak mereka pun sibuk ngamen dijalanan.

Beberapa anak-anak itu kerap  terjaring patroli Dinas Sosial Kota. Diinapkan sementara  di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) di Pasir Garam, Pangkal Balam . Kepala Dinas Sosial Pangkalpinang menuturkan "Mereka kami kasih pemahaman, kemudian kasih pembinaan jangan sampai turun ke jalan. Pertama anak-anak itu kan tidak tahu, bahwa berkeliaran di jalanan itu pelanggaran PERDA. Kita gunakan PERDA penanganan anak-anak itu. Kalau  ngamen artinya ketertiban umum juga mereka langgar kan?!” . Ia melanjutkan  , “ Anak-anak itu  dipulangkan ke rumah orangtua mereka  kalau masih tinggal di Pangkalpinang sekitarnya. Mereka ini ternyata tidak hanya dari sini, ada juga dari beberapa kabupaten lain”.

Pembinaan oleh Dinas Sosial (Dinsos) selama ini belum banyak menurunkan jumlah anak jalanan. Bila ini dibiarkan mungkin akan timbul masalah lain.  Anak-anak  itu mudah terpengaruh  lingkungan, seperti  obat-obat terlarang. Mereka hanya berpikir saat ini saja pokoknya senang  “happy”.  

Ia berharap  bukan  hanya pihak pemerintah saja yang mengawasi anak-anak dijalanan, tetapi juga harus didukung oleh orang tua, masyarakat, serta lembaga lainnya untuk terwujudnya kota yang betul-betul layak anak.

(@f@)


×
Berita Terbaru Update