-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Derita Warga desa Taranggi, Pemerintah tutup mata.

Rabu, 23 September 2020 | September 23, 2020 WIB Last Updated 2020-09-22T21:32:25Z

Pasang kayu, Kabar Nusantara (30/08/20) Jalan poros desa Taranggi Kecamatan Duripoku, Kab.Pasang kayu rusak parah, warga mengeluh, memprotes dan mempertanyatakan anggaran desa, karena pekerjaan  yang nampak di kerjaan oleh kepala desa itu sudah berjalan 4 tahun, di anggab tidak sesuai dengan anggaran yang miliyaran rupiah di kelola setiap tahun.

Dari pantauan wartawan, jalan poros desa Taranggi ini rusak parah, sering ada kejadian orang terjatuh lalu bagaikan mandi lumpur saat melintas di jalan ini. Apa lagi ibu-ibu kalau ke pasar paling sering jatuh. " di sini biasa juga kalau orang mengantar anak ke sekolah terjatuh lalu pakaianya penuh lumpur, kalau sudah begitu anak langsung pulang menangis karena pakaiannya kotor". Jelas warga desa Taranggi yang tidak mau di publikasikan namanya di media ini. 

Lebih jauh dia mengatakan bahwa "jalan desa ini sebenarnya sudah  lama rusak, hanya kami warga yang selalu swadaya dan gotong-royong untuk memperbaiki, baik tenaga mau pun biaya, kalau biaya biasa di tarik dari kelompok sawit ( imfra ) lalu di belikan matrial untuk timbunan.

Sejak menjabat jadi kepala desa Sainal Abidin, yang sudah berjalan 4 tahun ini, bangunan yang nampak hanya jembatan plat dekker. Kemudian Kantor Desa, dan  jalan tani, Tetapi untuk jalan tani  yang di banyak yang tidak bermamfaat karena tidak di fungsikan oleh warga, padahal banyak jalan di tempat lain seandainya itu yang di kerjakan jauh lebih bermamfaat.

Warga juga menyinggung jembatan gantung Taranggi, penghubung dusun loppong dan dusun bambalae, yang di bangun tahun 2018 menggunakan tali sling bekas dan kayu bekas diambil dari jembatan yang sudah rusak.

Pada hal anggarannya besar Rp 382.318.600, yang bersumber dari dana desa tahun 2018, volume anya 50 meter. Menurut warga yang tidak mau di publikasikan namanya,  bahwa proyek ini di kerjakan oleh Kaur Desa dan Sekdes, Rustam Rahing serta Kepala Dusun Bambalae, Said,  dan Kepala Dusun Loppong, Jumadi.  Jembatan ini seharusnya belum rusak tapi karena  matrial bekas yang di gunakan makanya cepat rusak  hanya sudah di tempel dengan beberapa lembar kayu sehingga masih bisa di lewati warga.

Di temui di kediamannya, tanggal, 1 September 2020, Kades Taranggi, Sainal Abidin menanggapi protes dan keluhan warga. Bahwa kalau masyarakat mengatakatan tidak seberapa kelihatan bangunan memang betul. karena selama ini kalau musrembang dusun, desa masyarakat mintahnya jalan tani dan plat dekker yang selalu di kerjakan, jadi itu jalan tani dan plat dekker kalau sudah lamah dia tidak terlalu kelihatan. 

kemudian masalah jalan rusak ini, ya memang baru rusak parah karena faktor hujan, dan adanya mobil lewat dengan muatan berat makanya jalan berlubang, kami tidak programkan karena waktu menyusun program jalan ini masih bagus, jadi itulah alasan nya mengapa tidak di kerja, karena tidak diprogram.

Tapi kami berupaya akan perbaiki jalan ini muda-mudahan ada anggaran perubahan tersisa dari COVID19 itu rencana akan kami gunakan.

Lanjut Kades mengenai masala kayu bekas dan tali sling bekas yang di gunakan di jembatan gantung Taranggi benar, karena kita tidak anggarkan kayu dan tali sling dalam program  pembuatan jembatan gantung itu. Kayu bekas jembatan itu masih bagus kayu bawang bawang, begitu juga tali sling karena masih sangat layak, jadi kita tidak anggarkan mengingat dana desa juga terbatas, sementara program warga banyak mau di kerja." jelas Sainal Abidin Kades Taranggi.

 Salman.

×
Berita Terbaru Update